Situbondo MotimNews. Puluhan sopir dan ratusan anggota yang tergabung Serikat Pekerja Transportasi Indonesia (SPTI) di Kabupaten Situbondo melakukan aksi mogok beroperasi, Rabu (4/4). Akibatnya, sebagian besar warga pengguna angkutan umum jurusan Besuki-Situbondo terdampak dan kesulitan mencari angkutan.
Pengurus SPTI Situbondo, Joni mengatakan, setidaknya 41 armada angkutan MPU yang tercatat dan berada di bawah naungan SPTI berhenti beroperasi mulai hari ini. Aksi mogok massal ini dilakukan sebagai bentuk protes atas keberadaan transportasi Mobil Penumpang Umum (MPU) baru yang diduga kuat milik warga luar kabupaten yang beroperasi di jalur trayek Besuki-Situbondo dan tanpa koordinasi dengan SPTI.
"Kami menolak adanya penambahan angkutan MPU baru. Sejumlah angkutan MPU baru yang disinyalir milik warga luar Kabupaten Situbondo yang dititipkan warga sini itu, sudah beroperasi sekitar 1 bulan," ujarnya.
Lebih jauh, Joni mengatakan, selama ini jalur Besuki-Situbondo sebagai trayek operasi sopir dan anggota SPTI digunakan angkutan MPU baru tersebut.
"Dengan kami berhenti beroperasi, biar ada perhatian dari pemerintah dan para pemilik angkutan umum baru itu tidak sembarangan beroperasi di jalur trayek kami," tukasnya.
Dampak adanya angkutan MPU baru yang jumlahnya ada 2 unit mobil dan akan ada tambahan lagi sebanyak 3 unit mobil tersebut, sambung Joni, membuat penghasilan anggota SPTI berkurang drastis.
"Hal ini tentu sangat merugikan kami," tandasnya.
Joni menegaskan, aksi mogok ini akan dimusyawarahkan lagi dengan semua anggota, apakah akan terus dilakukan selama angkutan MPU baru tersebut tetap beroperasi.
"Tuntutan kami agar pemerintah terkait mengeluarkan kebijakan untuk penghentian seluruh operasional transportasi MPU baru itu," bebernya.
Pantauan Memo Timur, aksi mogok massal yang dilakukan anggota dan sopir angkutan umum yang tergabung SPTI ini terpusat di sebelah timur Perempatan Buduan, Kecamatan Suboh.
Kondisi ini telah membuat jalanan disepanjang jalur Besuki-Situbondo sepi dari angkutan MPU, seperti di pertigaan Bungatan dan Mlandingan.
Tak hanya itu, aksi mogok ini juga membuat warga pengguna jasa angkutan MPU kesulitan. Mereka menumpuk di sejumlah halte, termasuk para siswa, pedagang, dan warga yang hendak bepergian ke wilayah Besuki atau Situbondo.
Seorang siswa sebuah SMA Situbondo, Indah Nuri mengatakan, tidak mengetahui jika pada hari ini ada aksi mogok sopir MPU dan anggota SPTI dan sudah menunggu beberapa menit di halte.
"Saya tidak ada aksi mogok. Padahal saya mau ngikuti ujian di sekolah dan di halte ini sudah nunggu sekitar 15-30 menit, tapi nggak ada juga," ungkap siswi yang mengaku sudah duduk di kelas 3 SMAN 1 Besuki itu saat ditemui Memo Timur di Halte Bungatan.
Indah Nuri merasa bersyukur karena ada yang memberitahu kalau ada aksi mogok sopir MPU trayek Besuki-Situbondo.
"Untung saja ada bapak wartawan yang kasih tahu, sehingga keluarga bisa ditelepon untuk bisa mengantarkan saya ke sekolah," katanya. (kim/fin)
